widget

Senin, 23 Juni 2014


TUGAS
MATA KULIAH
SEMINAR BAHASA & SASTRA

MAKALAH

Kesalahan Penggunaan Afiksasi yang Berpengaruh
Terhadap Tata Bahasa Siswa MI



Nama               : Muh. Munip
            NIM                : 112 11B 0024 M
Semester          : VIII Reguler Sore







FAKULTAS KEJURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM
TAHUN 2013 - 2014



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. Yang dengan rahmat serta karunia-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Rampungnya penyusunan masalah ini tidak terlepas dari bimbingan ibu dosen dan bantuan teman-teman serta dukungan dari istri dan anak- anakku tercinta.
Penulis telah mencoba untuk membuat dan menyajikan makalah ini dalam bentuk sesederhana mungkin. Semoga makalah ini dapat berguna bagi penulis sendiri dan bagi pembaca, sehingga dapat menambah wawasan kita dalam menghadapi permasalahan afiksasi pada siswa tingkat Madrasah Ibtida’iyah.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu hingga selesainya makalah ini tepat pada waktunya. Kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.






Bagik Polak, 15 Juni 2014



Penulis













BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata.
Di dalam tata bentukan (morfologi) bahasa Indonesia, terdapat istilah morfem. Morfem adalah satuan terkecil yang memiliki makna. Berdasarkan definisi tersebut, buku adalah morfem karena menjadi bentuk terkecil yang memiliki makna. Di pihak lain juga terdapat kata berbuku, meskipun dikatakan sebagai morfem, tapi masih dapat dipilah menjadi morfem-morfem, yaitu ber- dan bukuBer- dikatakan sebagai morfem karena satuan terkecil ini masih memiliki arti, yaitu mempunyai. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti buku, dinamakan morfem bebassedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti ber-, dinamakan morfem terikat. Contoh berbuku di atas adalah satu kata yang terdiri atas dua morfem, yakni dua satu terikat ( ber-) serta satu morfem bebas (buku).
Kata perbesar juga merupakan contoh kata yang telah mengalami proses morfemis atau proses morfologis. Proses morfemis yang terjadi pada kata perbesar adalah pembubuhan depan dengan morfem terikat depan dalam bahasa Indonesia yaitu pembubuhan per- pada kata dasar besar.  Peristiwa ini merupakan sebuah proses afiksasi yang dikenal dengan prefiks. Proses afiksasi merupakan salah satu proses morfemis yang terjadi dalam tata bentukan (morfologi) bahasa Indonesia yang sering menimbulkan masalah dalam hal ketepatan penggunaannya terutama dalam kalangan siswa MI (Madrasah Ibtida’iyah) yang baru mengenal sebuah tata bahasa.
Oleh karena itu, penulis mencoba memaparkan permasalahan penggunaan afiksasi dalam makalah  yang berjudul “Kesalahan Penggunaan Afiksasi yang Berpengaruh Terhadap Tata Bahasa Siswa MI” ini.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah, sebagai berikut:
1.      Apa sajakah seluk beluk morfologi?
2.      Bagaimana wujud afiksasi dalam bahasa Indonesia?
3.      Apa saja permasalahan afiksasi yang terdapat pada siswa MI ?
4.      Bagaimana cara mengatasi permasalahan afiksasi pada siswa MI ?

C.     Tujuan penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penulisan makalah ini bertujuan untuk membantu pendidik dalam mengajarkan kepada siswanya tentang ketepatan penggunakan afiksasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya di tingkat Madrasah Ibtida’iyh.

D.    Manfaat Penulisan
Hasil penulisan ini nantinya di harapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Khususnya bagi siswa MI yang sulit untuk menempatkan afiksasi dengan benar dalam tata bahasanya serta bagi pendidik dan calon pendidik yang nantinya akan membimbing siswa dalam pembelajaran afiksasi bahasa Indonesia.






















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Seluk Beluk Morfologi
Kata Morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan dan logos berarti ilmu. Bunyi yang terdapat diantara morphed dan logos ialah bunyi yang biasa muncul diantara dua kata yang digabungkan. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk. Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata.
Dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil, yang kemudian dapat dipotong lagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika dipotong lagi, tidak mempunyai makna. Kata memperbesar, misalnya, dapat kita potong sebagai berikut:
mem-perbesar →  per-besar
Jika besar dipotong lagi, maka be- dan sar- masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per- dan besar disebut morfem. Morfem yang dapat  berdiri sendiri, sepertibesar, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti mem-dan per-, dinamakan morfem terikat. Dengan batasan itu, maka sebuah morfem dapat berupa kata (seperti besar di atas), tetapi sebuah kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Contoh memperbesar di atas adalah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- dan per- serta satu morfem bebas besar
Dalam tata bentuk (morfologi) bahasa indonesia terdapat proses morfologis atau proses morfemis. Proses morfemis merupakan proses pembentukan kata bermorfem jamak baik derivatif (apabila kata bermorfem jamak secara sintaksis berdistribusi dan mempunyai ekuivalen dengan semua kata bermorfem tunggal) maupun inflektif (apabila kata bermorfem jamak tidak mempunyai ekuivalen dalam distribusi sintaksis dengan sebuah kata bermorfem tunggal).
Pada umumnya proses morfemis dibedakan atas 6 macam, yaitunya sebagai berikut:
1)      Proses Afiksasi yaitu proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya afiks terdiri dari prefiks, infiks, sufiks, konfiks. Seperti, prefiks me- pada kata melawan (kata dasar lawan).
2)      Proses Reduplikasi yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, seperti meja-meja, reduplikasi sebagian (parsial), seperti lelaki (dari dasar laki-laki) maupun dengan perubahan bunyi, seperi bolak-balik (dari dasar balik).
3)      Proses Komposisi yaitu proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru. Seperti, lalu lintas, daya juang, dan rumah sakit.
4)      Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi. Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental. Modifikasi Internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (yang biasanya berupa konsonan). Ada jenis modifikasi internal lain yang disebut suplesi yaitu perubahannya sangat ekstrem karena cirri-ciri bentuk dasar tidak ada atau hampir tidak tampak lagi.
5)      Proses Pemendekan yaitu proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan  leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhny. Hasilnya disebut kependekan. Seperti, bentuk lab (utuhnya laboratorium)
6)      Produktivitas Proses Morfemis yaitu dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi, digunakan berulang-ulang yang secara relative tidak terbatas; artinya, ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

B.     Wujud Afiks dalam Bahasa Indonesia
Kata yang dibentuk dari kata lain pada umumnya mengalami tambahan bentuk pada kata dasarnya. Kata seperti (bertiga, ancaman, gerigidan berdatangan) terdiri atas kata dasar (tiga,ancam,gigi, dan datang)­ yang masing-masing dilengkapi dengan bentuk yang berwujud (ber-,an-,-er-, dan ber-an)Bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata dinamakan afiks atau imbuhan. Keempat bentuk terikat di atas adalah afiks atau imbuhan. Afiks yang di tempatkan di bagian muka suatu kata dasar disebut prefiksatau awalan. Bentuk atau morfem terikat seperti ber-, meng-, peng-, dan per- adalah prefiks atau awalan. Apabila morfem terikat ini digunakan di bagian belakang kata, maka namanya adalah sufiks atau akhiran. Morfem terikat seperti -an, -kan, dan -i  adalah contoh sufiks atau akhiran. Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan di tengah kata dasar. Bentuk seperti -er- dan -el- pada gerigi dan geletar adalah infiks atau sisipan.
Gabungan prefiks atau sufiks yang membentuk suatu kesatuan dinamakan konfiks. Kata berdatangan, misalnya,dibentukdarikatadasar datang dankonfiks ber-an yang secara serentak diimbuhkan. Kita harus waspada terhadap bentuk yang mirip dengan konfiks, tetapiyang bukan konfiks karena proses penggabungannya tidak secara serentak. Kataberhalangan misalnya pertama-tama dibentuk dengan menambahkan sufiks -an pada dasarhalang sehingga terbentuk kata halangan. Sesudah itu barulah prefiks ber- diimbuhkan. Jadi ber-an pada berdatangan  adalah konfiks karena afiks itu merupakan kesatuan. Tidak ada bentuk datangan. Sebaliknya, ber-an pada berhalangan bukan konfiks karena merupakan hasil proses penggabungan prefiks ber- dengan berhalangan.
C.     Analisis Kesalahan Afiksasi Siswa MI
Siswa MI adalah siswa tingkat sekolah dasar yang baru mengenal tatanan bahasa Indonesia. Di bangku sekolah dasar ini, siswa tersebut mengenal tatanan bahasa indonesia yaitu berupa pelajaran penggunaan imbuhan yang mana kita kenal dalam istilah afiksasi.
Berbagai permasalahan afiksasi yang dialami siswa MI diantaranya adalah sebagai berikut:
(1)   Dalam membuat kalimat, siswa sulit untuk meletakkan afiks dengan benar.
Contoh:
Kebersihan Lingkungan
Di tempat kami tinggal setiap 1 bulan sekali  mengadai kegiatan gotong royong. Kegiatan ini diketuakan oleh pak kepala dusun. Warga dianjurkan membawa sapu lidi dan cangkul untuk membersihkan sampah-sampah yang berada di lingkungan setempat. Dengan adanya kegiatan ini, lingkungan pun jadi bersih.
Perbaikan terhadap kesalahan afiksasi pada karangan di atas, adalah sebagai berikut:
Kebersihan Lingkungan
Di tempat kami tinggal setiap 1 bulan sekali  mengadakan kegiatan gotong royong. Kegiatan ini diketuai oleh pak kepala dusun. Warga dianjurkan membawa sapu lidi dan cangkul untuk membersihkan sampah-sampah yang berada di lingkungan setempat. Dengan adanya kegiatan ini, lingkungan pun menjadi bersih.

(2)   Dalam proses afiksasi, siswa sulit membedakan bentuk dasar yang harus luluh dengan   yang tidak luluh
Contoh:
1.      Ibu guru merubah jadwal piket kebersihan kami.
2.      Pada saat ujian, seluruh siswa dilarang menyontoh.
3.      Lintah darat itu mensita semua harta benda kami.
Perbaikan prefiks dari contoh di atas adalah:
1)      Ibu guru mengubah jadwal piket kebersihan kami.
2)      Pada saat ujian, seluruh siswa dilarang mencontoh.
3)      Lintah darat itu menyita semua harta benda kami.

(3)   Siswa sulit untuk membedakan di- sebagai prefiks dengan di- sebagai preposisi
Contoh:
1.      Kursi itu di beli ayah.
2.      Aku tinggal dirumah nenek.
3.      Kakak di pukul adik.

Perbaikan prefiks dari contoh di atas adalah:
1)      Kursi itu dibeli ayah
2)      Aku tinggal di rumah nenek
3)      Kakak dipukul adik.

D.    Penyebab Kesalahan Afiksasi Siswa MI/SD
Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dengan bahasa juga dapat saling bertukar pikiran, gagasan,  pengetahuan serta dapat menjalin hubungan silaturrahmi dengan baik. Dengan bahasa pula kita dapat mengenal asal usul seseorang. Dengan bahasa pula cara hidup dan berfikir manusia dapat dipengaruhi, untuk itu bahasa adalah alat untuk mengenal dunia.
Dalam belajar bahasa, siswa mengembangkan kemampuannya untuk memahami dan memproduksi bahasa. Pengembangan tersebut meliputi belajar menyusun bahasa dan penggunaannya dalam berkomunikasi. Kemampuan berbahasa anak bervariasi. Pada umumnya anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik yang diperoleh dari kebiasaan komunikasinya dengan menggunakan bahasa sehari-hari mereka. Anak yang kacau kemampuan berbahasanya atau perkembangan bahasanya belum sampai pada tingkat kebahasaan yang digunakan dalam bacaan dimungkinkan akan mengalami kesulitan dalam menggunakan tata bahasa yang benar. Faktor-faktor yang mungkin menyebabkan kegagalan siswa dalam belajar, terutama pada kesalahan penggunaan afiksasi yaitu sebagai berikut:
1.      Adanya kebiasaan menyepelekan afiksasi bahasa Indonesia
Misalnya, kesalahan penulisan prefiks di-. Pemasalahannya adalah siswa tidak dapat membedakan mana prefiks di- yang harus digabung dengan kata dasar serta prefiks di- yang harus dipisah dengan kata dasar. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik dalam penulisan afiksasi amat lemah, terutama pada siswa sekolah dasar. Hal semacam ini dikarenakan pengetahuan dalam menulis masih kurang, ataupun pembelajaran yang didapatkan belum maksimal atau mencapai tujuan, dan dampaknya adalah adanya kebiasaan menyepelekan afiksasi yang tepat dalam menulis. Hal ini seiring dengan kurangnya pengetahuan siswa tentang aturan penggunaan afiks tersebut.

2.      Kurang efektifnya cara pembelajaran yang dipakai
Pada umumnya siswa sekolah dasar belum menguasai tata bahasa Indonesia secara sempurna, padahal usia mereka sudah berada di ambang pintu berakhirnya masa paling peka di dalam proses pemerolehan bahasa. Jika ternyata benar bahwa penguasaan bahasa Indonesia siswa Sekolah Dasar memang seperti itu keadaannya, ini berarti bahwa akan semakin lebih sulit lagi pada tahun-tahun berikutnya bagi para pendidik untuk membenahi kemampuan berbahasa Indonesia siswa-siswa lulusan Madrasah Ibtida’iyah atau Sekolah Dasar
Jadi,  kemampuan menggunakan afiks yang benar, dirasa kurang memadai bagi para siswa MI. Pembelajaran afiksasi ditingkat tersebut masih kurang, bukan karena kemampuan anak-anak MI tersebut, melainkan cara pembelajaran bahasanya yang perlu kita tinjau kembali, sebab peranan guru dan anak sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran bahasa.

3.      Kebiasaan menggunakan afiksasi yang salah dalam kehidupan sehari-hari
Anak yang kacau kemampuan berbahasanya atau perkembangan bahasanya yang disebabkan pengaruh kehidupan sehari-harinya dimungkinkan akan mengalami kesulitan dalam menggunakan tata bahasa yang baik. Salah satu contoh kata yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah mencuci. Mencuci adalah kata dasar cuci yang mengalami proses afiksasi yaitu prefiks me-.
Benar
Salah
Mencuci
Menyuci

Jika dilakukan perbandingan penggunaan antara kata mencuci dengan menyuci, maka menyuci adalah kata yang lebih dominan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan karena menyuci lebih mudah untuk diucapkan dibandingkan kata mencuci. Lambat laun, hal ini telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan, bahkan hal ini juga dialami siswa MI dalam penulisan kalimat. Fakta ini beranjak dari kebiasaan pengucapan dan berakhir pada kebiasaan penulisan.
4.      Siswa kurang memahami makna dari setiap variasi afiks.
Hal ini disebabkan karena siswa itu tidak mengetahui setiap makna dari afiks yang digunakan. Dalam pengamatan terdapat beberapa kesalahan berbahasa siswa usia sekolah dasar pada taraf morfologiKesalahan berbahasa tersebut di antaranya berupa penggunaan afiks meng-i dan meng-kan. Misalnya, (Di tempat kami tinggal setiap 1 bulan sekali  mengadai  kegiatan gotong royong)Penggunaan  imbuhan  meng-i  pada kata (mengadai) seharusnya (mengadakan) karena maksud kata itu adalah ‘membuat jadi ada’. Jika digunakan konfiks meng- kan yang memiliki makna ‘membuat jadi atau menganggap sebagai apa yang disebut kata dasarnya (ada)’

E.     Cara Mengatasi Kesalahan Afiksasi Siswa MI
Dalam kegiatan kebahasaan, yang menjadi permasalahan bukan saja hal-hal yang berhubungan dengan aspek menulis tapi juga berhubungan dengan aspek berbicara. Oleh karena itu dalam makalah ini, penulis memaparkan berbagai cara mengatasi kesalahan afiksasi yaitunya dimulai dari aspek berbicara dan diakhiri dengan aspek menulis.
1)      Dalam memberikan pembelajaran, guru harus menggunakan kalimat dengan afiksasi yang benar
Berbicara adalah suatu hal yang mutlak dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan. Aspek berbicara  adalah hal yang paling sulit untuk mengatasi permasalahan afiksasi. Hal ini disebabkan karena afiksasi adalah suatu proses pembentukan kata yang mengutamakan struktur kata. Walaupun demikian, aspek berbicara tetap berperan dalam hal mengatasi permasalahan afiksasi karena semua kesalahan afiksasi itu dimulai dari kesalahan berbicara (pengucapan) dan diakhiri oleh kesalahan penulisan.
Cara mengatasi masalah afiksasi melalui aspek berbicara adalah pendidik harus mengarahkan siswa untuk berbicara dengan senantiasa menggunakan kata-kata yang sesuai dengan afiksasi yang benar. Misalnya, dalam berbicara dengan siswa, pendidik harus menggunakan afiksasi yang benar. Guru adalah model, apabila guru berbuat benar maka siswa juga mendapatkan sebuah kebenaran dan sebaliknya apabila guru berbuat salah maka siswa juga akan mengalami kesalahan sebab siswa MI adalah anak yang suka meniru, mereka cendrung meniru kebiasaan gurunya yang telah menjadi model dalam kehidupannya.
Contoh kecil dari kata yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran afiksasi agar siswa senantiasa dapat secara tepat menggunakan afiksasi itu adalah kata ‘mencontoh’ bukan ‘menyontoh’. Guru dapat membiasakan menerapkan ketepatan afiksasi mencontoh itu dalam kegiatan pembelajaran. Seperti, ketika akan ujian guru dapat mengatakan kepada siswanya ‘jangan mencontoh saat ujian’.

2)      Guru sebaiknya memberikan pembelajaran yang efektif
Memberikan pelajaran afiksasi tidaklah semudah yang dipikirkan. Apabila afiksasi salah, maka kalimat yang dibuatpun tidak akan sempurna karena hal ini menyebabkan tata bahasa yang digunakan menjadi kacau. Guru sebagai pendidik amatlah berperan penting dalam mengatasi masalah kesalahan afiksasi pada peserta didiknya. Guru hendaknya memberikan cara pembelajaran yang efektif dalam bahasa Indonesia sehingga kesalahan tata bahasa Indonesia terutama afiksasi dapat diminimalisir. Pembelajaran afiksasi yang efektif yang dapat membantu tata bahasa afiksasi  siswa MI adalah:
a)      Guru dapat membiasakan pengajaran memahami makna dari setiap afiksasi yang digunakan.
            Dengan mengetahui makna setiap afiksasi tersebut, maka siswa akan lebih mudah mencocokan afiksasi yang benar dalam penulisan kalimat.
Contoh:
Ø  Karena ibu akan ulang tahun, adik memesankan ibu baju baru di Butik Nirmala.
Ø  Karena ibu akan ulang tahun, adik memesan ibu baju baru di Butik Nirmala.
Berdasarkan contoh di atas, kata ‘memesankan’ lebih tepat digunakan dibandingkan dengan ‘memesan’. Karena makna kata memesan, lebih mudah dimengerti dan cocok dengan maksud dari kalimat tersebut. Jika menggunakan kata memesan yang bermakna melakukan pekerjaan pesan. Kata tersebut tidaklah cocok, yang mengakibatkan makna dari kalimat tersebut tidak dapat disampaikan secara tepat. Tapi jika kata yang digunakan adalah memesankan  yang bermakna melakukan pekerjaan pesan untuk orang lain, hal ini amat cocok dan tepat karena sesuai dengan topik pembicaraan dari kalimat tersebut yaitu Adik melakukan pekerjaan pesan baju untuk ibu di Butik Nirmala.
Misalnya, table di bawah ini dapat membantu guru dalam mengajarkan makna setiap variasi afiksasi yang ada dalam strukur kebahasaan.



Prefiks me-
Menghasilkan sesuatu
Menyayur, menyambal
Melakukan pekerjaan
Menulis, mendengar
Melakukan pekerjaan dengan alat
Mencangkul, menyapu
Memberi atau membubuhi
Mengapur, menambal
Mengeluarkan bunyi
Mendesis, mengeong
Mengeluarkan atau menampilkan
Menari, melompat
Sisipan -el-
Menyatakan banyak
Geletar
Menyatakan alat
Telunjuk
Pelaku pekerjaan
Pelatuk
Menyatakan berulang-ulang
Jelajah
Sufiks –an
Benda/alat
Ayunan
Melakukan kegiatan
Latihan
Tempat
Lapangan
Yang di...
Tulisan
Konfiks meng-kan
sesuatu tindakan
Mengadakan
Sesuatu menjadi..
Membetulkan
Membawa ke tempat..
Memejahijaukan

b)      Dalam memberikan pelajaran afiksasi, sebaiknya guru memaparkan afiksasi yang salah   dengan afiksasi yang benar secara berbarengan serta aturan penulisannya.
Hal ini dengan mudah dapat membantu siswa MI untuk mengetahui kesalahan penggunaan afiks.
Ø  Bentuk dasar luluh dan tidak luluh
Contoh:
Afiks+bentuk dasar
Afiksasi salah
Afiksasi yang benar
Me+susup
Mensusup
Menyusup
Me+karang
Menkarang
Mengarang
Me+cubit
Menyubit
Mencubit
Me+syukur
Mensyukuri
Menyukuri

Dari contoh diatas, guru dapat memberikan penjelasan tentang aturan dari proses peluluhan sehingga siswa lebih mengerti tentang struktur afiksasi itu. Seperti,
§  Huruf fonim k, p, t, dan s diawal bentuk dasar luluh sehingga yang terjadi adalah urutan bentuk: meng-, mem-, men-, dan meny-.
§  Huruf c dan sy di awal bentuk dasar tidak luluh. Bentuk penulisannya menjadi: menc- dan mensy-.
Ø  Digabung atau tidak digabungnya prefiks di- dengan kata dasarnya
Contoh:
di-+bentuk dasar
Bentuk yang salah
Bentuk yang benar
di+beli
di beli
Dibeli
di+pukul
di pukul
dipukul
di+meja
Dimeja
di meja
di+rumah
Dirumah
di rumah
Untuk membantu siswa lebih memahami tentang struktur penggunaan afiks di-, maka guru dapat memaparkan tentang aturan penggunaan afiks di- tersebut yaitunya: jika di- diikuti dengan kata yang menunjukan tempat, maka penulisannya harus dipisahkan.
     Dengan cara di atas, maka guru dengan mudah dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran afiksasi dan siswa dapat lebih mengerti tentang penggunaan afiksasi yang benar.

3)      Guru harus sering memberikan latihan, pekerjaan rumah bahkan remedi pada siswa
            Hal ini dilakukan agar siswa dapat benar-benar memahami pembelajaran afiksasi sehingga dalam setiap penulisan kata-kata ataupun kalimat, siswa tersebut dapat menampilkan kalimat dengan afiksasi yang benar sehingga kalimat yang dibuat oleh siswa  tersebut tidak kacau atau rancu lagi serta siswa tersebut tidak akan menyepelekan afiksasi bahasa Indonesia lagi.

            Afiksasi merupakan imbuhan yang mana afiksasi ini sering digunakan dalam setiap pembelajaran bahasa maupun pembelajaran lainnya yang berhubungan denga kata ataupun kalimat. Ketidaktepatan penggunaan afiksasi adalah salah satu dari sekian banyak contoh fenomena kesalahan tata bahasa Indonesia yang sering ditemukan dikalangan siswa T baingkat MI bahkan sampai ke perguruan tinggi. Jadi, setiap permasalahan afiksasi di tingkat dasar haruslah diselesaikan dengan cara yang tepat agar kesalahan tersebut tidak berlanjut di masa yang akan datang.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Proses afiksasi adalah salah satu proses morfemis yang sering menjadi permasalah dalam penulisan kalimat bagi siswa MI. Misalnya, kesalahan penggunaan prefiks di-, kesalahan peluluhan dan kesalahan bentuk afiksasi lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya suatu bentuk penyepelean  afiksasi pada siswa MI. Hal ini mereka lakukan karena adanya anggapan bahwa ‘afiksasi itu mudah’. Secara kasat mata, anggapan ini memang benar. Tapi, jika benar-benar diperhatikan, afiksasi itu amatlah sulit karena harus diperhatikan dengan teliti dan dipahami dengan cermat. Seperti, jika rumah diberi prefiks di- maka akan menjadidi rumah bukanlah dirumah. Yang membedakan kedua kata tersebut adalah prefiks di-digabung dan tidak digabung dengan kata dasarnya. Hal ini terjadi karena adanya aturan tata bahasa prefiks di- yaitunya jika kata dasarnya menunjukan tempat maka prefiks di-dipisahkan dengan kata dasarnya. Permasalahan afiksasi lainnya adalah pada kata yang harus luluh dan tidak luluh ketika diberi afiksasi. Misalnya, kata me+sapu akan berubah menjadimenyapu. Dalam kata tersebut tampak peluluhan huruf s yang menyebabkan prefiks me­-menjadi meny-.
Menulis kalimat itu memanglah perkara mudah, tapi ketika berbicara tentang penggunaan afiksasi yang benar, ini amatlah sulit karena tidak adanya pengetahuan yang mendalam tentang afiksasi tersebut. Oleh karena itu sebaiknya para pendidik sebagai pemberi wawasan, hendaklah cermat dalam memberi pelajaran mengenai afiksasi tersebut sehingga tidak terjadi lagi  kesalahan penggunaan afiksasi pada siswa MI tersebut.

B.     Saran
Permasalahan ketidaktepatan penggunaan afiksasi ini tidak hanya akan dihadapi pada jenjang sekolah dasar saja. Pada jenjang sekolah menengah dan perguruan tinggipun, kesalahan penggunaan afiksasi masih sering ditemukan.  Jadi, ketika jenjang sekolah dasar sebaiknya pendidik memperhatikan dan mengatasi hal ini dengan serius sehingga kesalahan afiksasi dapat diminimalisir pada jenjang pendidikan berikutnya.




Kata-kata sulit:
1.       Gramatikal=menurut tata bahasa/ sesuai dg tata bahasa.
2.       Structural= berkenaan dg struktur
3.       Morfem= satuan bhs terkecil yg mempunyai mkna dan tdk dpt dibagi atas bagian mkna yg lbih kecil.
4.       Derivatif=  berasal dari dasar kt yg memperoleh imbuhan.
5.       Ekuivalen= mempunyai nilai( ukuran, arti, atau efek) yg sama;seharga;sebanding;sepadan.
6.       Inflektif= perubahan bentuk kata(dlm bhs fleksi)yg menunjukkan berbagai hubungan gramatikal (spt deklinasi,pronominal,adjectiva, dan konjugasi verba)
-          Deklinasi (perubahan kearah yg lbih kecil, lemah, atau rendah)
-          Pronominal (kt gnti)
-          Adjectiva (kt yg menerangkn nomina(kt bnda) yg secara umum dpt bergbung dg kt lebih dan sangat)
-          Konjugasi (perubhn bntuk verba yg berhubungn dg jumlh,jnis klmin,modus dan wktu)
7.       Prefix= imbuhn yg ditmbhkn pd bgian awl sebuah kt dsr atau bntuk dsr;awaln ber.
8.       Infiks= morfem yg disisipkn ditengh kt;sisipn:kt gemetar berasal dri kt getar.sisipn em.
9.       sufiks, = ditmbhkn pd bgian blkng kt dsr.msl;an,kan,i.
10.   konfiks= afiks tunggl yg trjdi dri dua unsur yg terpish(msl ke-an dl kemerdekaan)









Senin, 28 April 2014

PRAGMATIK

PRAGMATIK
Dalam komunikasi, satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. Untuk maksud “menyuruh” orang lain, penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif, kalimat deklaratif, atau bahkan dengan kalimat interogatif. Dengan demikian, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act), sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna.
Kajian pragmatik lebih menitikberatkan pada ilokusi dan perlokusi daripada lokusi sebab di dalam ilokusi terdapat daya ujaran (maksud dan fungsi tuturan), perlokusi berarti terjadi tindakan sebagai akibat dari daya ujaran tersebut. Sementara itu, di dalam lokusi belum terlihat adanya fungsi ujaran, yang ada barulah makna kata/kalimat yang diujarkan.
Berbagai tindak tutur (TT) yang terjadi di masyarakat, baik TT representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif, TT langsung dan tidak langsung, maupun TT harafiah dan tidak harafiah, atau kombinasi dari dua/lebih TT tersebut, merupakan bahan sekaligus fenomena yang sangat menarik untuk dikaji secara pragmatis. Misalnya, bagaimanakah TT yang dilakukan oleh orang Jawa apabila ingin menyatakan suatu maksud tertentu, seperti ngongkon‘menyuruh’, nyilih‘meminj am’, njaluk‘memint a’, ngelem‘memuji’, janji‘berjanji’, menging ‘melarang’, dan ngapura ‘memaafkan’. Pengkajian TT tersebut tentu menjadi semakin menarik apabila peneliti mau mempertimbangkan prinsip kerja sama Grice dengan empat maksim: kuantitas, kualitas, hubungan, dan cara; serta skala pragmatik dan derajat kesopansantunan yang dikembangkan oleh Leech (1983).
Pragmatik dan Fungsi Bahasa
           Bidang “pragmatik” dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. Dengan kata lain, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1987: 5 dan 7), pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional. Artinya, kajian ini mencoba .

PRAGMATIK VS SEMANTIK

         Sebelum dikemukakan batasan pragmatik kiranya perlu dijelaskan lebih dahulu
perbedaan antara pragmatik dengan semantik.
(a) Semantik mempelajari makna, yaitu makna kata dan makna kalimat, sedangkan pragmatik
      mempelajari maksud ujaran, yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan.
(b) Kalau semantik bertanya “Apa makna X?” maka pragmatik bertanya “Apa yang Anda
     maksudkan dengan X?”
(c) Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks, sedangkan makna di dalam pragmatik  ditentukan oleh konteks, yakni siapa yang berbicara, kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana, dan apa fungsi ujaran itu. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini, Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat “semantik bersifat bebas konteks (context independent), sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)” (bandingkan Wijana, 1996: 3). Definisi pragmatik
1. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa. Satuan-satuan lingual dalam
    penggunaannya.
2. studi kebahasaan yang terikat konteks.
3.studies meaning in relation to speech situation (Leech, 1983).
4. cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni
    bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana, 1996: 2).
            Cukup banyak kiranya batasan atau definisi mengenai pragmatik. Levinson (1987: 1- 53), misalnya, membutuhkan 53 halaman hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting.
(1) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya, sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut.
(2) Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa, sedangkan semantik adalah kajian
mengenai makna.
(3) Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional, artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab- sebab nonlinguistik.
(4) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi
dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa.
(5) Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, praanggapan, tindak tutur, dan
aspek-aspek struktur wacana.
(6) Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi,
terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya.
Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. Yang jelas disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat, melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act).
Stephen C. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari
berbagai sumber dan pakar, yang dapat dirangkum seperti berikut ini.
1.Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris,
1938:6). Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan
penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan
Contohs eman tika:
kursi                                                    tempat duduk’
signifiant (penanda)                            signifie (petanda)
Terdapat suatu prinsip:
Noam Chomsky:
Terdapat hubungan satu lawan satu antara penanda dan petanda (signifiant dan s ig n ifie).
Pragmatik:
Satu tanda bisa menyatakan bermacam-macam maksud atau bermacam-macam tanda satu
maksud.
Contoh: ’menolak’ bisa dinyatakan dengan
-Ora duwe dhuwit.
-Omahku sepi kok.
·
Tuturan semakin panjang tuturan semakin sopan, semakin pendek tidak sopan. 
Contoh:Lunga! (tidak sopan) danLungaa! (lebih sopan)



MENGENAL PRAGMATIK

Oleh: Muh. Munip

            Linguistik berarti ilmu bahasa. Sebagai ilmu bahasa, linguistik memiliki berbagai cabang ilmu. Cabang-cabang itu di antaranya: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Fonologi adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji seluk-beluk bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal. Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa, sedangkan semantik adalah disiplin ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal.
           Berbeda dengan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik yang mempelajari struktur bahasa secara internal, pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi. Mengenai definisi pragmatik, perhatikan dialog di bawah ini:
(1) Reni : Berapa nilai mata kuliah menulismu, man?
     Rahman : Ya .. lumayan, dapat B.
     Reni : Bagus kamu Man, aku hanya dapat C.
     Rahman : Tapi, Ajeng dapat A.
     Reni : Biasa Man, dia khan mahasiswi yang pintar.
Bandingkan penggunaan kata bercetak miring pada dialog di atas dengan yang ada dalam dialog berikut!
(2) Reni : Berapa nilai mata kuliah menulismu, Man?
     Rahman : Malu aku Ren, aku diberi nilai D oleh Pak Imron.
     Reni : Bagus kamu Man, itulah hasilnya kalau kamu tidak pernah masuk.
     Rahman : Tapi, Ajeng dapat E.
     Reni : pantas, dia khan mahasiswi yang pintar.

            Secara eksternal, bila dilihat dan penggunaannya, kata bagus ternyata tidak selalu bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’, seperti yang tampak pada dialog (1) di atas. Akan tetapi, apabila diperhatikan penggunaan kata bagus pada dialog (2) yang berbunyi “Bagus kamu Man, itulah hasilnya kalau kamu tidak pernah masuk” memiliki makna sebaliknya, yaitu buruk atau jelek, yang berfungsi sebagai bentuk sindiran. Begitu pula makna kata “pintar” pada dialog (1) memiliki makna yang bertentangan pada dialog (2). Pada dialog (1), kata pintar bermakana pandai atau cakap, tetapi pada dialog (2) bermakna sebaliknya, yaitu bodoh.   Dari uraian di atas jelas bahwa makna yang ditelaah oleh semantik adalah makna apa adanya, tanpa memperhatikan siapa penutur, siapa mitra tutur, kapan dan di mana tuturan itu terjadi, sedangkan makna yang dikaji oleh pragmatik adalah makna yang memperhatikan hal-hal tersebut. Dengan demikian, meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa dalam memaknai sebuah tuturan.
          Semantik bersifat bebas konteks (contect independent), sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent) (Purwo, 1990, 16). Yang dimaksud dengan konteks di sini adalah konteks linguistik dan konteks nonlinguistik. Konteks linguistik, seperti kalimat yang sebelumnya mendahului, disebut pula koteks, sedangkan konteks nonlinguistik, seperti siapa yang berbicara, siapa yang diajak berbicara, kapan terjadinya pembicaraan, dan di mana terjadinya pembicaraan, disebut dengan konteks. Apabila diamati lebih jauh, makna yang menjadi kajian semantik adalah makna linguistik (linguistic meaning), sedangkan yang dikaji oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning) (Verhaar, 1977; Parker, 1986, 32). Dengan kata lain, Makna yang dikaji oleh semantik bersifat diadis. Makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apa makna x itu? Makna yang ditelaah oleh pragmatis bersifat triadis. Makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apakah yang kau maksud dengan berkata x itu? Dengan demikian, pragmatik adalah studi tentang maksud penutur (Yule, 2006:3).
           Pendapat yang agak berbeda tentang pragmatik disampaikan oleh Morris (1938). Pragmatik sebagai suatu kajian ilmu muncul dari pandangan Morris tentang semiotik, yaitu ilmu yang mempelajari sistem tanda atau lambang. Morris membagi semiotik ke dalam tiga cabang ilmu, yaitu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Sintaksis mempelajari hubungan antara lambang dengan lambang lainnya, semantik mempelajari hubungan antara lambang dengan objeknya, dan pragmatik mempelajari hubungan antara lambang dengan penafsirnya.
        Yule (2006) juga menyampaikan secara gamblang perbedaan antara ketiga cabang semiotika tersebut. Dikatakan bahwa sintaksis adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk kebahasaan itu dalam suatu urutan (kalimat). Semantik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (kata) dengan sesuatu secara harfiah, sedangkan pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk linguistik (tuturan) dengan si pemakai bentuk tersebut. Dengan demikian, pragmatik selalu menghubungkan makna bentuk linguistik dengan pemakainya (penutur).
         Definisi pragmatik lainnya dikemukakan oleh beberapa ahli dengan redaksi yang berbeda. Morris (1960) mengatakan bahwa pragmatik merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara tanda bahasa itu diinterpretasikan. Yang dimaksud orang menurut definisi tersebut adalah pemakai tanda itu sendiri, yaitu penutur. Cara seorang petinju yang menganggap lawannya tidak bisa lagi melawan dengan menggunakan tanda bahasa habis. Tanda bahasa ini akan digunakan berbeda oleh seorang agen minyak tanah, yaitu untuk menggambarkan bahwa minyak tanahnya sudah ludes terjual.
        Menurut Leech (1993:8), pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) yang meliputi unsur-unsur penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan tempat. Yule (1996: 3) menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna penutur; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu, sedangkan Levinson (1987:1) mengatakan bahwa pragmatik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara lambang dengan penafsirannya.
            Thomas (1995:2) mendefinisikan pragmatik dengan menggunakan sudut pandang sosial dan sudut pandang kognitif. Dengan sudut pandang sosial, Thomas menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, pragmatik dihubungkan dengan interpretasi tuturan (utterance interpretation). Pemaknaan tuturan dalam pragmatik merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks tuturan (fisik, sosial, dan linguistik), dan makna potensial yang mungkin dari sebuah tuturan tuturan. Pragmatik sebagai bidang linguistik yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).
         Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji segala aspek makna tuturan berdasarkan maksud penutur yang dihubungkan dengan konteks bahasa dan konteks nonbahasa. Konteks ini sangat mempengaruhi makna satuan bahasa, mulai dari kata sampai pada sebuah wacana.


Minggu, 30 Maret 2014

PANTUN (LELAKAQ)

Kebon daye tebau paku
Jauq berkat uleq bagawe
Bawen dunie turuti nafsu
Leq akhirat pasti sengsare
            Teleq sepatu leq peken Kediri
            Bawe tanaq te impan bengkiwe
            Silaq tepacu teleq rahasie diri
            Aden saq kenaq klampan nyawe
Timun perie maiq tekandoq
Sulin antap polak setenge
Mun rahasie diri ndq te taoq
Rugi idup leq bawen dunie
            Kebian congoq jauq kiriq
             Lalo nyebrang kokoqbelabur
Pacuan telengoq salaq diriq
Ndq girang telengoq salaq batur
Kawat se uwat bawen bate
Araq merisat aiq bebeleng
Ayat tersurat te genem bace
Saq tersirat ndq lupaq indeng
            Nangke  odaq ndq iniq teriq
            Payuan pari saq mbe  jage epe
Jangken toaq ndq  iniq taoq diriq
            aruan jari sampi ketimbang sampe
milu mancing joq aiq ampat
ndq lupaq langan Perigi
ilmu saq penting araq empat
silaq te boyaq aden ndq rugi

            

Selasa, 25 Maret 2014

Kutipan isi Kitab Syeikh siti Jenar

Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)”, yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil “Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)”, maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”

Sasahidan Syekh Siti Jenar…

“Insun anakseni ing Datingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran amung Ingsun, lan nakseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun, Rasul iku rahsaning-Sun, Muhammad iku cahyaning-Sun, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kan langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kukurangan ing pangerti, byar.. sampurna padhang terawang-an, ora karasa apa-apa, ora ana keton apa-apa, mung Insun kang nglimputi ing ngalam kabeh, kalawan kodrating-Sun.”
Artinya :
“Aku angkat saksi di hadapan Dzat-Ku sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku, dan Aku angkat saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku, sesungguhnya yg disebut Allah Ingsun diri sendiri (badan-Ku), Rasul itu Rahsa-Ku, Muhammad itu cahaya-Ku, Akulah Dzat yg hidup tidak akan terkena mati, Akulah Dzat yang selalu ingat tidak pernah lupa, Akulah Dzat yg kekal tidak ada perubahan dalam segala keadaan, (bagi-Ku) tidak ada yg samar sesuatupun, Akulah Dzat yang Maha Menguasai, yang Kuasa dan Bijaksana, tidak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benerang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanya Aku yg meliputi sekalian alam dengan kodrat-Ku.”

Rabu, 05 Maret 2014

PANTUN 

Ikan gabus di rawa-rawa,
Ikan belut nyangkut di jaring,
Perutku sakit menahan tawa,
Gigi palsu loncat ke piring
Dimana kuang hendak bertelur,
Diatas lata dirongga batu,
Dimana tuan hendak tidur,
Diatas dada dirongga susu
Elok berjalan kota tua,
Kiri kanan berbatang sepat,
Elok berbini orang tua,
Perut kenyang ajaran dapat
Anak ayam turun ke bumi,
Induk ayam naik kelangit,
Anak ayam nyari kelangit,
Induk ayam nyungsep ke bumi
Limau purut di tepi rawa,,
Buah dilanting belum masak,
Sakit perut sebab tertawa,,
Melihat kucing duduk berbedak
Jalan-jalan ke rawa-rawa,
Jika capai duduk di pohon palm,
Geli hati menahan tawa,
Melihat katak memakai helm
Sakit kaki ditikam jeruju,
Jeruju ada didalam paya,
Sakit hati memandang susu,
Susu ada dalam kebaya
Disana gunung, disini gunung,
Ditengah-tengah bunga melati,
Saya bingung kamu pun bingung,
Kenapa ada bunga melati ???!?
Naik kebukit membeli lada,
Lada sebiji dibelah tujuh,
Apanya sakit berbini janda,
Anak tiri boleh disuruh
Pohon kelapa, Pohon durian,,
Pohon Cemara, Pohon Palem,
Pohonnya tinggi-tinggi Bo!
Orang Sasak pergi ke Bali,
Membawa pelita semuanya,
Berbisik pekak dengan tuli,
Tertawa si buta melihatnya
Naik kebukit membeli lada,
Lada sebiji dibelah tujuh,
Apanya sakit berbini janda,
Anak tiri boleh disuruh
Orang Sasak pergi ke Bali,
Membawa pelita semuanya,
Berbisik pekak dengan tuli,
Tertawa si buta melihatnya
Jauh di mata,dekat dihati,
Jauh di hati,dekat dimata,
Jauh-dekat tujuh ratus perak
Ada apa diseberang itu,
Mentimun busuk dimakan kalong,
Ada apa diseberang itu,
Bujang bungkuk gadis belong
Sakit kaki ditikam jeruju,
Jeruju ada didalam paya,
Sakit hati memandang susu,
Susu ada dalam kebaya
Ada buah manggis,
Ada juga buah anggur,
Awalnya romantis,
Pas tekdung malah kabur
Jangan takut,
Jangan kawatir,
Itu kentut,
Bukan petir
Jalan-jalan ke Kota Arab,
Jangan lupa membeli kitab,
Cewek sekarang tidak bisa diharap,
Bodi bohai betis berkurap

Elok berjalan kota tua,
Kiri kanan berbatang sepat,
Elok berbini orang tua,
Perut kenyang ajaran dapat
Buah Nanas, Buah bengkoang,
Buah jambu, Buah kedondong,
Ngerujak dooooooooonggggggg
Senangis letak di timbangan,
Pemulut kumbang pagi-pagi,
Menangis katak di kubangan,
Melihat belut terbang tinggi
Anak Hindu beli petola,
Beli pangkur dua-dua,
Mendengar kucing berbiola,
Duduk termenung tikus tua
Jalan-Jalan ke Kota Sumedang..,
Ada Kambing Makan Rumput..,
Anak-anak pada Senang ..,
Melihat banci Bergoyang Dangdut..
Bunga mawar tangkai berduri,
Laris manis pedang cendol,
Aku tersenyum malu sekali,
Ingat dulu suka mengompol
Anak cina menggali cacing,
Mari diisi dalam tempurung,
Penjual sendiri tak kenal dacing,
Alamat dagangan habis diborong
Biduk buluh bermuat tulang,
Anak Siam pulang berbaris,
Duduk mengeluh panglima helang,
Melihat ayam bercengkang keris 
Buah jering dari Jawa,
Naik sigai ke atas atap,
Ikan kering lagi ketawa,
Dengar tupai baca kitab
Pohon manggis di tepi rawa,
Tempat datuk tidur beradu,
Sedang menangis nenek tertawa,
Melihat datuk bermain gundu
Anak dara Datuk Tinggi,
Buat gulai ikan tilan,
Datuk tua tak ada gigi,
Bila makan kunyah telan
Jikalau lengang dalam negeri,
Marilah kita pergi ke kota,
Hairan tercengang kucing berdiri,
Melihat tikus naik kereta
Punggur berdaun di atas kota,
Jarak sejengkal dua jari,
Musang rabun,
helang pun buta,
Baru ayam suka hati
Ketika perang di negeri Jerman,
Ramai askarnya mati mengamuk,
Rangup gunung dikunyah kuman,
Lautan kering dihirup nyamuk
Jual betik dengan kandil,
Kandil buatan orang Inggeris,
Melihat buaya menyandang bedil,
dan kerbau tegak berbaris
Berderak-derak sangkutan dacing,
Bagaikan putus diimpit lumpang,
Bergerak-gerak kumis kucing,
Melihat tikus bawa senapang
Pokok pinang patanya condong,
Dipukul ribut berhari-hari,
Kucing berenang tikus berdayung,
Ikan di laut berdiam diri
Tanam pinang di atas kubur,
Tanam bayam jauh ke tepi,
Walaupun musang sedang tidur,
Mengira ayam di dalam mimpi
Anak bakau di rumpun salak,
Patah taruknya ditimpa genta,
Riuh kerbau tergelak-gelak,
Melihat beruk berkaca mata
Orang menganyam sambil duduk,
Kalau sudah bawa ke balai,
Melihat ayam memakai tanduk,
Datang musang meminta damai
Hilir lorong mudik lorong,
Bertongkat batang temberau,
Bukan saya berkata bohong,
Katak memikul paha kerbau
Di kedai Yahya berjual surat,
Di kedai kami berjual sisir,
Sang buaya melompat ke darat,
Melihat kambing terjun ke air