widget

Senin, 28 April 2014

PRAGMATIK

PRAGMATIK
Dalam komunikasi, satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. Untuk maksud “menyuruh” orang lain, penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif, kalimat deklaratif, atau bahkan dengan kalimat interogatif. Dengan demikian, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act), sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna.
Kajian pragmatik lebih menitikberatkan pada ilokusi dan perlokusi daripada lokusi sebab di dalam ilokusi terdapat daya ujaran (maksud dan fungsi tuturan), perlokusi berarti terjadi tindakan sebagai akibat dari daya ujaran tersebut. Sementara itu, di dalam lokusi belum terlihat adanya fungsi ujaran, yang ada barulah makna kata/kalimat yang diujarkan.
Berbagai tindak tutur (TT) yang terjadi di masyarakat, baik TT representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif, TT langsung dan tidak langsung, maupun TT harafiah dan tidak harafiah, atau kombinasi dari dua/lebih TT tersebut, merupakan bahan sekaligus fenomena yang sangat menarik untuk dikaji secara pragmatis. Misalnya, bagaimanakah TT yang dilakukan oleh orang Jawa apabila ingin menyatakan suatu maksud tertentu, seperti ngongkon‘menyuruh’, nyilih‘meminj am’, njaluk‘memint a’, ngelem‘memuji’, janji‘berjanji’, menging ‘melarang’, dan ngapura ‘memaafkan’. Pengkajian TT tersebut tentu menjadi semakin menarik apabila peneliti mau mempertimbangkan prinsip kerja sama Grice dengan empat maksim: kuantitas, kualitas, hubungan, dan cara; serta skala pragmatik dan derajat kesopansantunan yang dikembangkan oleh Leech (1983).
Pragmatik dan Fungsi Bahasa
           Bidang “pragmatik” dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. Dengan kata lain, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1987: 5 dan 7), pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional. Artinya, kajian ini mencoba .

PRAGMATIK VS SEMANTIK

         Sebelum dikemukakan batasan pragmatik kiranya perlu dijelaskan lebih dahulu
perbedaan antara pragmatik dengan semantik.
(a) Semantik mempelajari makna, yaitu makna kata dan makna kalimat, sedangkan pragmatik
      mempelajari maksud ujaran, yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan.
(b) Kalau semantik bertanya “Apa makna X?” maka pragmatik bertanya “Apa yang Anda
     maksudkan dengan X?”
(c) Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks, sedangkan makna di dalam pragmatik  ditentukan oleh konteks, yakni siapa yang berbicara, kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana, dan apa fungsi ujaran itu. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini, Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat “semantik bersifat bebas konteks (context independent), sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)” (bandingkan Wijana, 1996: 3). Definisi pragmatik
1. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa. Satuan-satuan lingual dalam
    penggunaannya.
2. studi kebahasaan yang terikat konteks.
3.studies meaning in relation to speech situation (Leech, 1983).
4. cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni
    bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana, 1996: 2).
            Cukup banyak kiranya batasan atau definisi mengenai pragmatik. Levinson (1987: 1- 53), misalnya, membutuhkan 53 halaman hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting.
(1) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya, sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut.
(2) Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa, sedangkan semantik adalah kajian
mengenai makna.
(3) Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional, artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab- sebab nonlinguistik.
(4) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi
dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa.
(5) Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, praanggapan, tindak tutur, dan
aspek-aspek struktur wacana.
(6) Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi,
terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya.
Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. Yang jelas disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat, melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act).
Stephen C. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari
berbagai sumber dan pakar, yang dapat dirangkum seperti berikut ini.
1.Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris,
1938:6). Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan
penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan
Contohs eman tika:
kursi                                                    tempat duduk’
signifiant (penanda)                            signifie (petanda)
Terdapat suatu prinsip:
Noam Chomsky:
Terdapat hubungan satu lawan satu antara penanda dan petanda (signifiant dan s ig n ifie).
Pragmatik:
Satu tanda bisa menyatakan bermacam-macam maksud atau bermacam-macam tanda satu
maksud.
Contoh: ’menolak’ bisa dinyatakan dengan
-Ora duwe dhuwit.
-Omahku sepi kok.
·
Tuturan semakin panjang tuturan semakin sopan, semakin pendek tidak sopan. 
Contoh:Lunga! (tidak sopan) danLungaa! (lebih sopan)



MENGENAL PRAGMATIK

Oleh: Muh. Munip

            Linguistik berarti ilmu bahasa. Sebagai ilmu bahasa, linguistik memiliki berbagai cabang ilmu. Cabang-cabang itu di antaranya: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Fonologi adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji seluk-beluk bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal. Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa, sedangkan semantik adalah disiplin ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal.
           Berbeda dengan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik yang mempelajari struktur bahasa secara internal, pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi. Mengenai definisi pragmatik, perhatikan dialog di bawah ini:
(1) Reni : Berapa nilai mata kuliah menulismu, man?
     Rahman : Ya .. lumayan, dapat B.
     Reni : Bagus kamu Man, aku hanya dapat C.
     Rahman : Tapi, Ajeng dapat A.
     Reni : Biasa Man, dia khan mahasiswi yang pintar.
Bandingkan penggunaan kata bercetak miring pada dialog di atas dengan yang ada dalam dialog berikut!
(2) Reni : Berapa nilai mata kuliah menulismu, Man?
     Rahman : Malu aku Ren, aku diberi nilai D oleh Pak Imron.
     Reni : Bagus kamu Man, itulah hasilnya kalau kamu tidak pernah masuk.
     Rahman : Tapi, Ajeng dapat E.
     Reni : pantas, dia khan mahasiswi yang pintar.

            Secara eksternal, bila dilihat dan penggunaannya, kata bagus ternyata tidak selalu bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’, seperti yang tampak pada dialog (1) di atas. Akan tetapi, apabila diperhatikan penggunaan kata bagus pada dialog (2) yang berbunyi “Bagus kamu Man, itulah hasilnya kalau kamu tidak pernah masuk” memiliki makna sebaliknya, yaitu buruk atau jelek, yang berfungsi sebagai bentuk sindiran. Begitu pula makna kata “pintar” pada dialog (1) memiliki makna yang bertentangan pada dialog (2). Pada dialog (1), kata pintar bermakana pandai atau cakap, tetapi pada dialog (2) bermakna sebaliknya, yaitu bodoh.   Dari uraian di atas jelas bahwa makna yang ditelaah oleh semantik adalah makna apa adanya, tanpa memperhatikan siapa penutur, siapa mitra tutur, kapan dan di mana tuturan itu terjadi, sedangkan makna yang dikaji oleh pragmatik adalah makna yang memperhatikan hal-hal tersebut. Dengan demikian, meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa dalam memaknai sebuah tuturan.
          Semantik bersifat bebas konteks (contect independent), sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent) (Purwo, 1990, 16). Yang dimaksud dengan konteks di sini adalah konteks linguistik dan konteks nonlinguistik. Konteks linguistik, seperti kalimat yang sebelumnya mendahului, disebut pula koteks, sedangkan konteks nonlinguistik, seperti siapa yang berbicara, siapa yang diajak berbicara, kapan terjadinya pembicaraan, dan di mana terjadinya pembicaraan, disebut dengan konteks. Apabila diamati lebih jauh, makna yang menjadi kajian semantik adalah makna linguistik (linguistic meaning), sedangkan yang dikaji oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning) (Verhaar, 1977; Parker, 1986, 32). Dengan kata lain, Makna yang dikaji oleh semantik bersifat diadis. Makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apa makna x itu? Makna yang ditelaah oleh pragmatis bersifat triadis. Makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apakah yang kau maksud dengan berkata x itu? Dengan demikian, pragmatik adalah studi tentang maksud penutur (Yule, 2006:3).
           Pendapat yang agak berbeda tentang pragmatik disampaikan oleh Morris (1938). Pragmatik sebagai suatu kajian ilmu muncul dari pandangan Morris tentang semiotik, yaitu ilmu yang mempelajari sistem tanda atau lambang. Morris membagi semiotik ke dalam tiga cabang ilmu, yaitu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Sintaksis mempelajari hubungan antara lambang dengan lambang lainnya, semantik mempelajari hubungan antara lambang dengan objeknya, dan pragmatik mempelajari hubungan antara lambang dengan penafsirnya.
        Yule (2006) juga menyampaikan secara gamblang perbedaan antara ketiga cabang semiotika tersebut. Dikatakan bahwa sintaksis adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk kebahasaan itu dalam suatu urutan (kalimat). Semantik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (kata) dengan sesuatu secara harfiah, sedangkan pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk linguistik (tuturan) dengan si pemakai bentuk tersebut. Dengan demikian, pragmatik selalu menghubungkan makna bentuk linguistik dengan pemakainya (penutur).
         Definisi pragmatik lainnya dikemukakan oleh beberapa ahli dengan redaksi yang berbeda. Morris (1960) mengatakan bahwa pragmatik merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara tanda bahasa itu diinterpretasikan. Yang dimaksud orang menurut definisi tersebut adalah pemakai tanda itu sendiri, yaitu penutur. Cara seorang petinju yang menganggap lawannya tidak bisa lagi melawan dengan menggunakan tanda bahasa habis. Tanda bahasa ini akan digunakan berbeda oleh seorang agen minyak tanah, yaitu untuk menggambarkan bahwa minyak tanahnya sudah ludes terjual.
        Menurut Leech (1993:8), pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) yang meliputi unsur-unsur penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan tempat. Yule (1996: 3) menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna penutur; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu, sedangkan Levinson (1987:1) mengatakan bahwa pragmatik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara lambang dengan penafsirannya.
            Thomas (1995:2) mendefinisikan pragmatik dengan menggunakan sudut pandang sosial dan sudut pandang kognitif. Dengan sudut pandang sosial, Thomas menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, pragmatik dihubungkan dengan interpretasi tuturan (utterance interpretation). Pemaknaan tuturan dalam pragmatik merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks tuturan (fisik, sosial, dan linguistik), dan makna potensial yang mungkin dari sebuah tuturan tuturan. Pragmatik sebagai bidang linguistik yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).
         Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji segala aspek makna tuturan berdasarkan maksud penutur yang dihubungkan dengan konteks bahasa dan konteks nonbahasa. Konteks ini sangat mempengaruhi makna satuan bahasa, mulai dari kata sampai pada sebuah wacana.


Minggu, 30 Maret 2014

PANTUN (LELAKAQ)

Kebon daye tebau paku
Jauq berkat uleq bagawe
Bawen dunie turuti nafsu
Leq akhirat pasti sengsare
            Teleq sepatu leq peken Kediri
            Bawe tanaq te impan bengkiwe
            Silaq tepacu teleq rahasie diri
            Aden saq kenaq klampan nyawe
Timun perie maiq tekandoq
Sulin antap polak setenge
Mun rahasie diri ndq te taoq
Rugi idup leq bawen dunie
            Kebian congoq jauq kiriq
             Lalo nyebrang kokoqbelabur
Pacuan telengoq salaq diriq
Ndq girang telengoq salaq batur
Kawat se uwat bawen bate
Araq merisat aiq bebeleng
Ayat tersurat te genem bace
Saq tersirat ndq lupaq indeng
            Nangke  odaq ndq iniq teriq
            Payuan pari saq mbe  jage epe
Jangken toaq ndq  iniq taoq diriq
            aruan jari sampi ketimbang sampe
milu mancing joq aiq ampat
ndq lupaq langan Perigi
ilmu saq penting araq empat
silaq te boyaq aden ndq rugi

            

Selasa, 25 Maret 2014

Kutipan isi Kitab Syeikh siti Jenar

Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)”, yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil “Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)”, maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”

Sasahidan Syekh Siti Jenar…

“Insun anakseni ing Datingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran amung Ingsun, lan nakseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun, Rasul iku rahsaning-Sun, Muhammad iku cahyaning-Sun, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kan langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kukurangan ing pangerti, byar.. sampurna padhang terawang-an, ora karasa apa-apa, ora ana keton apa-apa, mung Insun kang nglimputi ing ngalam kabeh, kalawan kodrating-Sun.”
Artinya :
“Aku angkat saksi di hadapan Dzat-Ku sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku, dan Aku angkat saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku, sesungguhnya yg disebut Allah Ingsun diri sendiri (badan-Ku), Rasul itu Rahsa-Ku, Muhammad itu cahaya-Ku, Akulah Dzat yg hidup tidak akan terkena mati, Akulah Dzat yang selalu ingat tidak pernah lupa, Akulah Dzat yg kekal tidak ada perubahan dalam segala keadaan, (bagi-Ku) tidak ada yg samar sesuatupun, Akulah Dzat yang Maha Menguasai, yang Kuasa dan Bijaksana, tidak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benerang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanya Aku yg meliputi sekalian alam dengan kodrat-Ku.”

Rabu, 05 Maret 2014

PANTUN 

Ikan gabus di rawa-rawa,
Ikan belut nyangkut di jaring,
Perutku sakit menahan tawa,
Gigi palsu loncat ke piring
Dimana kuang hendak bertelur,
Diatas lata dirongga batu,
Dimana tuan hendak tidur,
Diatas dada dirongga susu
Elok berjalan kota tua,
Kiri kanan berbatang sepat,
Elok berbini orang tua,
Perut kenyang ajaran dapat
Anak ayam turun ke bumi,
Induk ayam naik kelangit,
Anak ayam nyari kelangit,
Induk ayam nyungsep ke bumi
Limau purut di tepi rawa,,
Buah dilanting belum masak,
Sakit perut sebab tertawa,,
Melihat kucing duduk berbedak
Jalan-jalan ke rawa-rawa,
Jika capai duduk di pohon palm,
Geli hati menahan tawa,
Melihat katak memakai helm
Sakit kaki ditikam jeruju,
Jeruju ada didalam paya,
Sakit hati memandang susu,
Susu ada dalam kebaya
Disana gunung, disini gunung,
Ditengah-tengah bunga melati,
Saya bingung kamu pun bingung,
Kenapa ada bunga melati ???!?
Naik kebukit membeli lada,
Lada sebiji dibelah tujuh,
Apanya sakit berbini janda,
Anak tiri boleh disuruh
Pohon kelapa, Pohon durian,,
Pohon Cemara, Pohon Palem,
Pohonnya tinggi-tinggi Bo!
Orang Sasak pergi ke Bali,
Membawa pelita semuanya,
Berbisik pekak dengan tuli,
Tertawa si buta melihatnya
Naik kebukit membeli lada,
Lada sebiji dibelah tujuh,
Apanya sakit berbini janda,
Anak tiri boleh disuruh
Orang Sasak pergi ke Bali,
Membawa pelita semuanya,
Berbisik pekak dengan tuli,
Tertawa si buta melihatnya
Jauh di mata,dekat dihati,
Jauh di hati,dekat dimata,
Jauh-dekat tujuh ratus perak
Ada apa diseberang itu,
Mentimun busuk dimakan kalong,
Ada apa diseberang itu,
Bujang bungkuk gadis belong
Sakit kaki ditikam jeruju,
Jeruju ada didalam paya,
Sakit hati memandang susu,
Susu ada dalam kebaya
Ada buah manggis,
Ada juga buah anggur,
Awalnya romantis,
Pas tekdung malah kabur
Jangan takut,
Jangan kawatir,
Itu kentut,
Bukan petir
Jalan-jalan ke Kota Arab,
Jangan lupa membeli kitab,
Cewek sekarang tidak bisa diharap,
Bodi bohai betis berkurap

Elok berjalan kota tua,
Kiri kanan berbatang sepat,
Elok berbini orang tua,
Perut kenyang ajaran dapat
Buah Nanas, Buah bengkoang,
Buah jambu, Buah kedondong,
Ngerujak dooooooooonggggggg
Senangis letak di timbangan,
Pemulut kumbang pagi-pagi,
Menangis katak di kubangan,
Melihat belut terbang tinggi
Anak Hindu beli petola,
Beli pangkur dua-dua,
Mendengar kucing berbiola,
Duduk termenung tikus tua
Jalan-Jalan ke Kota Sumedang..,
Ada Kambing Makan Rumput..,
Anak-anak pada Senang ..,
Melihat banci Bergoyang Dangdut..
Bunga mawar tangkai berduri,
Laris manis pedang cendol,
Aku tersenyum malu sekali,
Ingat dulu suka mengompol
Anak cina menggali cacing,
Mari diisi dalam tempurung,
Penjual sendiri tak kenal dacing,
Alamat dagangan habis diborong
Biduk buluh bermuat tulang,
Anak Siam pulang berbaris,
Duduk mengeluh panglima helang,
Melihat ayam bercengkang keris 
Buah jering dari Jawa,
Naik sigai ke atas atap,
Ikan kering lagi ketawa,
Dengar tupai baca kitab
Pohon manggis di tepi rawa,
Tempat datuk tidur beradu,
Sedang menangis nenek tertawa,
Melihat datuk bermain gundu
Anak dara Datuk Tinggi,
Buat gulai ikan tilan,
Datuk tua tak ada gigi,
Bila makan kunyah telan
Jikalau lengang dalam negeri,
Marilah kita pergi ke kota,
Hairan tercengang kucing berdiri,
Melihat tikus naik kereta
Punggur berdaun di atas kota,
Jarak sejengkal dua jari,
Musang rabun,
helang pun buta,
Baru ayam suka hati
Ketika perang di negeri Jerman,
Ramai askarnya mati mengamuk,
Rangup gunung dikunyah kuman,
Lautan kering dihirup nyamuk
Jual betik dengan kandil,
Kandil buatan orang Inggeris,
Melihat buaya menyandang bedil,
dan kerbau tegak berbaris
Berderak-derak sangkutan dacing,
Bagaikan putus diimpit lumpang,
Bergerak-gerak kumis kucing,
Melihat tikus bawa senapang
Pokok pinang patanya condong,
Dipukul ribut berhari-hari,
Kucing berenang tikus berdayung,
Ikan di laut berdiam diri
Tanam pinang di atas kubur,
Tanam bayam jauh ke tepi,
Walaupun musang sedang tidur,
Mengira ayam di dalam mimpi
Anak bakau di rumpun salak,
Patah taruknya ditimpa genta,
Riuh kerbau tergelak-gelak,
Melihat beruk berkaca mata
Orang menganyam sambil duduk,
Kalau sudah bawa ke balai,
Melihat ayam memakai tanduk,
Datang musang meminta damai
Hilir lorong mudik lorong,
Bertongkat batang temberau,
Bukan saya berkata bohong,
Katak memikul paha kerbau
Di kedai Yahya berjual surat,
Di kedai kami berjual sisir,
Sang buaya melompat ke darat,
Melihat kambing terjun ke air

Jumat, 28 Februari 2014

TANPA MAKNA

Engkau adalah Aku...
Kasih ku luruh menyentuh
AzamKu tuk bahagia yang utuh
     
         Rasakan dengan jiwa nan hampa
         Indah...kan kau sentuh...
         Zaman-Mu penuh kebohongan
         Keyakinan..tanamkan di relung sukma
         Isi dn hiasi tubuh halus-Mu
         Yang Allah titip di Zahir tubuhMu
         Agar...engkau hidup penuh makna

Aku...juga Engkau..
Nur Ilahi Zahir pada makna
Apa  bukan untuk di Jawab
Namun ingat..untuk tetap Lupa
Dimana...bukan sebuah pertanyaan..
Amin...adalah sebuah akhir.



romantic song

Lagu Barat Lama Romantis Terpopuler

Bagi Anda yang pada penasaran ingin segera mengetahui lagu barat lama romantis terpopuler sepanjang masa tersebut, maka secara lengkap Anda bisa melihat daftar judul-judul lagunya seperti yang dipublikasikan dibawah ini:

100. Oh Girl – The Chi-Lites
99. When I Fall In Love Nat King Cole
98. Have I Told You Lately – Van Morrison
97. How Can I Tell You – Cat Stevens
96. Alison – Elvis Costello
95. Do You Love Me? From Fiddler on the Roof
94. Some Enchanted Evening From South Pacific
93. Someone to Watch Over Me – Linda Ronstadt
92. A Man and a Woman – Anita Kerr Singers
91. Natural Woman – Aretha Franklin
90. All I Want – Joni Mitchell
89. At Last – Etta James
88. You Make Loving Fun – Fleetwood Mac
87. Songbird – Fleetwood Mac
86. Just the Way You Are – Billy Joel
85. Last Dance – Donna Summer
84. Fever – Peggy Lee
83. Do You Want to Dance? – Bette Midler
82. Sexual Healing – Marvin Gaye
81. Crazy – Patsy Cline
80. Always on My Mind – Willie Nelson
79. Saving All My Love for You – Whitney Houston
78. On the Street Where You Live – From My Fair Lady
77. Somewhere – Stephen Sondheim and Leonard Bernstein
76. Still in Love With You – Al Green
75. Do You Believe in Magic? – The Lovin' Spoonful
74. ust Like a Woman – Bob Dylan
73. P.S. I Love You – The Beatles
72. Chelsea Morning – Joni Mitchell
71. Girl – The Beatles
70. Kiss From a Rose – Seal
69. Vision of Love – Mariah Carey
68. With or Without You – U2
67. Moon River – Henry Mancini
66. Take on Me – a-ha
65. Crazy for You – Madonna
64. Time After Time – Cyndi Lauper
63. Come On Eileen – Dexys Midnight Runners
62. Love You Inside Out – Bee Gees
61. You’re the One That I Want – John Travolta and Olivia Newton-John
60. How Deep Is Your Love – The Bee Gees
59. You Don’t Have to Be a Star (To Be in My Show)” – Marilyn McCoo and Billy Davis Jr.
58. Shining Star – Earth Wind & Fire
57. Lovin’ You – Minnie Ripperton
56. Then Came You – Dionne Warwick and the Spinners
55. Can't Get Enough of Your Love Babe – Barry White
54. Feel Like Makin' Love – Roberta Flack
53. Love's Theme – The Love Unlimited Orchestra
52. The Way We Were – Barbra Streisand
51. Midnight Train To Georgia – Gladys Knight
50. Let’s Get It On – Marvin Gaye
49. You Are the Sunshine of My Life – Stevie Wonder
48. Lean on Me – Bill Withers
47. Here, There and Everywhere – The Beatles
46. Heart of Gold – Neil Young
45. Let’s Stay Together – Al Green
44. Ain’t No Mountain High Enough – Diana Ross
43. Close to You – The Carpenters
42. The Long and Winding Road – The Beatles
41. Sugar Sugar – The Archies
40. Higher Love – Steve Winwood
39. Love Theme From Romeo and Juliet” – Henry Mancini
38. This Guy's in Love With You” – Herb Alpert
37. Baby Love – The Supremes
36. Strangers in the Night – Frank Sinatra
35. Reach Out I’ll Be There – The Four Tops
34. When a Man Loves a Woman – Percy Sledge
33. I Will Always Love You” – Dolly Parton/Whitney Houston
32. (You're My) Soul and Inspiration – The Righteous Brothers
31. My Love – Petula Clark
30. I Got You Babe – Sonny and Cher
29. Back in My Arms Again – The Supremes
28. Happy Together – The Turtles
27. My Guy – Mary Wells
26. Chapel of Love – The Dixie Cups
25. I Will Follow Him – Little Peggy March
24. He’s So Fine – The Chiffons
23. Up on the Roof – The Drifters
22. Will You Love Me Tomorrow? – Carole King
21. Stay – Maurice Williams and the Zodiacs
20. Save the Last Dance for Me – The Drifters
19. Unchained Melody – The Righteous Brothers
18. Crazy Little Thing Called Love – Queen
17. Sherry – The Four Seasons
16. To Sir With Love – Lulu
15. Killing Me Softly With His Song – Roberta Flack
14. You've Got a Friend – Carole King
13. All I Have to Do Is Dream – The Everly Brothers
12. Bridge Over Troubled Water – Simon & Garfunkel
11. Best of My Love – The Emotions
10. I Can’t Stop Loving You – Ray Charles
09. Michelle” – The Beatles
08. Are You Lonesome Tonight? – Elvis Presley
07. The First Time Ever I Saw Your Face – Roberta Flack
06. In My Life – The Beatles
05. You Are So Beautiful” – Joe Cocker
04. I Just Called to Say I Love You – Stevie Wonder
03. Wonderful Tonight – Eric Clapton
02. I'll Be There – The Jackson 5
01. My Girl – The Temptations